Percandian Batujaya (Kompleks Percandian Batujaya)

Tentang Situs Batujaya dan Telagajaya (Komplek Percandian Batujaya)
Telah 22 tahun situs ini digali dan dipelajari para ahli arkeologi Indonesia dan mancanegara. Situs ini pertama kali diketahui tahun 1984, semula berupa bukit-bukit kecil di tengah sawah, penduduk setempat menyebutnya unur-unur (bukit-bukit kecil). Sekarang tak ada lagi bukit-bukit tetapi candi-candi hasil rekonstruksi dan lubang-lubang parit dan terbuka galian para archaeologists. Hasan Djafar, ahli arkeologi UI, kepala tim penggalian situs Batujaya, menerangkan dengan runtut penemuan situs ini. Penggalian yang telah berlangsung selama 22 tahun ini telah menghasilkan banyak penemuan artefak : bongkah2 bata merah yang kemudian bisa direkonstruksi menjadi candi-candi yang cukup besar, tembikar-tembikar, manik-manik, tablet-tablet tanah liat dan yang mengejutkan dan baru ditemukan tahun 2006 ini (terutama Juli 2006) adalah penemuan puluhan kerangka manusia yang masih utuh dari tengkorak sampai tapak kaki. Dua orang perempuan ahli arkeologi berkebangsaan Prancis dan Belanda khusus datang ke situs ini untuk mengekskavasi kerangka-kerangka di situs Batujaya, mengambil beberapa sampel tulang dan gigi dan akan melakukan penelitian DNA atas fosil tulang dan gigi guna mendapatkan data karakteristik ragawi yang lebih lengkap. Metode terbaru dalam arkeologi adalah bahwa pengambilan spesimen fosil suatu ras manusia harus dilakukan oleh ahli arkeologi dari ras yang berlainan. Mungkin, ini untuk menghindarkan kontaminasi saat pengambilan sampel. Karena kerangka manusia di Batujaya diperkirakan dari ras Indonesia, yaitu Mongolid, maka yang mengambil sampel adalah orang2 dari ras Eropa (Kaukasoid). Penelitian lebih dari 20 tahun ini tentu telah menghasilkan beberapa kesimpulan sementara, yaitu : (1) situs ini berumur di ambang pra-sejarah dan sejarah Indonesia (abad ke-4 dan ke-5 Masehi, saat ini batas pra-sejarah dan sejarah Indonesia adalah tahun 400 Masehi), (2) Candi Batujaya terbuat dari batamerah dan mempunyai ciri-ciri candi Budha, (3) tembikar dan manik-manik yang ditemukan adalah dari masa Neolitikum, (4) votive tablets (semacam meterai) dari tanah liat bakar bertuliskan tulisan pendek dalam aksara Palawa. Keberadaan Candi Batujaya meruntuhkan mitos bahwa di Jawa Barat tidak ada candi lain selain Candi Cangkuang (candi Syiwa) di Leles Garut. Candi Batujaya justru adalah candi yang paling tua di tanah Jawa yang berasal dari abad ke-4 atau ke-5. Juga, Candi Batujaya ini meruntuhkan mitos bahwa candi-candi yang berumur lebih mudalah yang dibangun dari bata merah setelah candi yang lebih tua dibangun dari batuan gunung (andesitik) (model candi Jawa Tengah ke Jawa Timur). Aksara di tablet2 tanahliat yang ditemukan di Batujaya sama dengan aksara yang dipakai pada prasasti-prasasti Tarumanagara yang ditemukan lebih tersebar di daerah Jawa Barat. Bagaimana hubungan Batujaya dengan Tarumanegara dan juga kerajaan-kerajaan Sunda sesudahnya (Galuh, Sunda, Pajajaran). Penanggalan absolut dan posisi stratigrafik situs Batujaya dan situs2 lainnya di Jawa Barat akan menjawab hal ini. Bagaimana pula hubungannya dengan pengaruh pedagang-pedagang India beragama Hindu dan Budha adalah persoalan tersendiri yang harus dijawab. Penggalian dan penelitian di Situs Batujaya masih terus berlangsung, analisis laboratorium atas sampel-sampel artefak dan fosil dari Batujaya masih terus dilakukan. Data hasil analisis DNA pada kerangka2 manusia yang ditemukan di situs ini nanti akan mengungkapkan banyak fakta. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan dapat mendengar hasilnya. Situs Batujaya begitu pentingnya buat prasejarah dan awal sejarah bangsa Indonesia. Dan, situs Batujaya menghadirkan artefak dan kerangka manusia yang begitu lengkapnya, tak pernah dalam sejarah arkeologi ditemukan artefak dan kerangka manusia pembuatnya dalam satu tempat secara sangat lengkap. Dari segi kualitas, candi di situs Batujaya tidaklah utuh secara umum sebagaimana layaknya sebagian besar bangunan candi. Bangunan-bangunan candi tersebut ditemukan hanya di bagian kaki atau dasar bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan. Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit (juga disebut sebagai unur ). Candi yang ditemukan di situs ini seperti candi Jiwa, struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah ditemukan di Indonesia. Bangunan candi Jiwa tidak terbuat dari batu, namun dari lempengan-lempengan batu bata. SEBUAH bangunan berbentuk bujur sangkar dari batu bata terlihat menonjol di antara hamparan padi berwarna hijau kekuning-kuningan di tengah sawah Desa Telagajaya, Kecamatan Batujaya, Karawang, Jawa Barat. Bagi masyarakat awam, bangunan berukuran 19 meter x 19 meter berpagar besi itu tak ubahnya candi biasa seperti di banyak daerah di Indonesia. Padahal, "penampakan" Candi Jiwa-begitu warga desa setempat menyebut bangunan itu-bisa jadi akan menguak sejarah penting kehidupan masyarakat Jawa Barat sekitar abad kelima atau keenam masehi. Kawasan situs itu sementara ini menjadi peninggalan tertua yang memiliki areal situs terbesar di Tanah Air. Dikatakan terbesar, sebab Candi Jiwa tak sendirian di tengah sawah tersebut. Di sekelilingnya terdapat situs-situs lain dalam radius lima kilometer yang diperkirakan dibangun pada abad yang sama, yakni sekitar abad kelima masehi. Sebenarnya ada kawasan situs di Jambi yang lebih besar, tetapi bangunan di sana jauh lebih muda, yaitu abad ke-16. Dibandingkan situs lain, letak Candi Jiwa paling dekat dengan jalan desa dan perkampungan warga hanya berjarak sekitar 500 meter. Namun, jarak candi dengan situs lainnya bervariasi. Ada yang hanya 500 meter, tetapi ada juga sampai 2 kilometeran. Kalaupun Candi Jiwa amat mudah dijangkau, itu disebabkan pemerintah membangun jalan semen selebar satu meter dari kampung membelah sawah menuju candi. Sedangkan untuk mencapai situs lain, orang masih harus melewati pematang sawah. Hasil penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Universitas Tarumanegara Jakarta, dan Universitas Indonesia sejak tahun 1984 sampai 2003 menunjukkan, Candi Jiwa hanya satu dari 20-an candi di Desa Segaran dan Telagajaya di Batujaya itu. Dibanding candi lain, Candi Jiwa agak unik. Tak ada ruangan atau tangga ke bagian atas candi, namun batu bata berbentuk bunga padma menutup penuh bagian atas bangunan itu.


 "Bunga Padma adalah lambang dari agama Buddha," jelas Soeroso MP, pejabat pada Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional. Ia tercatat sebagai salah satu dari sekian peneliti situs Batujaya yang akhirnya menjadi tesisnya saat mengambil master di Universitas Indonesia. SEBARAN situs Batujaya ada dalam radius sekitar lima kilometer, tetapi keterbatasan dana membuat belum banyak hal terkuak dari sana. Pemerintah kini sedang merekonstruksi Candi Blandongan yang terletak sekitar 500 meter dari Candi Jiwa. Sementara di sekelilingnya masih banyak unur (sisa reruntuhan candi berbentuk gundukan tanah) yang ternyata menyimpan bukti sejarah seperti candi. Dengan menggandeng Ecole Francaise D'extreme-Orient (Efeo), sebuah lembaga penelitian di bidang arkeologi dari Perancis, langkah penggalian pun dilanjutkan ke situs dan unur lain, misalnya situs Blandongan, situs Serut yang terletak di tanah milik Ale, penduduk di Desa Telagabunyi, dan unur silinder. Sementara ini, menurut Dr Pierre-Yves Manguin dari Efeo dan Soeroso, belum ada hal yang bisa disimpulkan dari serakan lebih dari 20 situs Batujaya. "Dari temuan barang seperti gerabah sebenarnya ada petunjuk bahwa di sana dulu sudah ada kehidupan. Kira-kira pada abad kelima atau keenam," urai Manguin. Temuan itu, tambah Soeroso, berupa manik-manik, gerabah, dan stempel berbentuk stupa yang menguatkan dugaan pada saat itu sudah berkembang agama Buddha. Soal keberadaan situs Batujaya terkait dengan kerajaan Taruma Negara, kedua peneliti menyatakan ada kemungkinan, namun sampai sekarang letak pasti kerajaan Taruma Negara sendiri belum jelas. Pierre Manguin menyatakan, perlu penggalian dan penelitian secara teliti sampai sekitar 10 tahun untuk menguak rahasia yang masih tersimpan di situs-situs tersebut. Ia menunjuk keberadaan Sungai Citarum di bagian barat situs besar kemungkinan berkait dengan rangkaian candi-candi Buddha di Batujaya. Terdapat 17 unur pada lokasi ini, satu diantaranya sudah selesai di ekskavasi yakni Candi Jiwa , sedangkan yang dalam tahap ekskavasi hingga artikel ini dibuat dinamakan Candi Blandongan . Unur-unur lain benar-benar masih dalam bentuk gundukan tanah, beberapa diantaranya telah meiliki nama: Serut, Gundul, Damar, Batu Lingga, Lingga dan Lempeng. Kesengajaan membiarkan candi-candi tersebut masih dalam gundukan tanah atau unur, diakrenakan untuk terhindar dari pencurian/perampokan benda-benda cagar budaya oleh masayarakat. Dengan membiarkannya dalam bentuk gundukan tanah, setidaknya akan mempersulit seseorang untuk mengambil benda-benda cagar budaya, karena harus menggali terlebih dahulu. Selain dalam bentuk candi juga ditemukan pula sebuah sumur tua yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Candi Blandongan dan sudah dinaungi cungkup diatasnya. Dibagian lain juga ditemukan sebuah batu pipih besar yang diperkirakan akan dipakai sebagai tempat penulisan prasasasti, namun entah karena faktor apa hingga kini tidak ada satu tulisanpun yang terukir dibatu tersebut. Dugaan yang timbul, mungkin telah terjadi bencana alam atau peperangan, sehingga batu pipih tersebut masih polos dari prasasti/tulisan. Nama Candi Jiwa diberikan penduduk karena setiap kali mereka menambatkan kambing gembalaannya di atas reruntuhan candi tersebut, ternak tersebut mati. Sedangkan nama Blandongan diambil dari dialek setempat yang identik dengan pendopo, dikarenakan lokasi candi tersebut berada sering dijadikan tempat peristirahatan seusai menggembalakan ternak. Berbeda dengan candi Blandongan, pada candi Jiwa praktis tidak ditemukan sama sekali adanya pintu masuk kebagian tengah candi. Susunan batu bata yang berbentuk gelombang pada bagian atasnya diperkirakan merupakan bagian dari relief bunga teratai. Dugaan awal pada bagian atas Candi Jiwa ini terdapat patung Budha berukuran besar yang duduk diatas bunga teratai. Disamping temuan-temuan batu-batuan pembentuk candi juga ditemukan fragmen tulang-belulang manusia dan binatang, gerabah, dan kerang-kerang laut kuno. Temuan paling penting dalam ekskavasi yang dilakukan antara lain fragmen cermin perunggu, fragmen sangkha emas, fragmen votive tablet berelief Buddha yang diapit Boddhisatwa. Di atasnya duduk tiga Tathagatha, sedangkan di bagian bawah terdapat inskripsi dengan huruf Jawa Kuno. soal candi Budha, stupa, tempat penguburan dan prasasti. Dari huruf Pallawa Prasasti diperkirakan berasal dari abad ke 5. Tetapi dari test karbon ada yang berasal dari tahun 140 sampai 400.

Komentar

Postingan Populer