Candi Blandongan

(Catatan Singkat Warga Lokal) Candi Blandongan ini Sama Halnya dengan Candi Jiwa yang mana awalnya ialah sebuah Gundukan yang di tanami dengan Pepohonan, tetapi di Candi Blandongan Pohon di Sekelilingnya Tumbuh Lebih Banyak di Bandingan dengan Candi Jiwa. Candi Blandongan ini Sama tidak jauh beda dengan Candi Jiwa ialah tempat Mencari Tikus oleh Para Pelajar Sekolah dengan tugas Pendidikan. "Created by Agus Rahmat (BagusKhare)

 *Dan Candi ini sekarang sudah selesai di Pugar dan layak untuk di kunjungi untuk wisata di Batujaya. Candi Blandongan ini Sering di Kunjungi untuk Pembuatan Film Documentary, acara acara tertentu lainya dan Para Pelajar dengan Tugas Pendidikan sama halnya dengan Candi candi yang lainnya yang ada di Komplek Percandian Batujaya. Dan Candi ini di jadikan tempat ibadah untuk Umat Budha dan Hindu. Kunjungi Website Candi Blandongan dan Dapatkan Petunjuk Arah di: http://candiblandongan.business.site/


Netmediatama - Indoensia Bagus Karawang



















Samsung Indonesia - Rencanakan & Wujudkan Hal yang Tertunda.













































ANTV Official - Jejak Paranormal

Waisak di Candi Blandongan

*Data Kegiatan Eskavasi : (Tim Arkeologi). Situs candi Blandongan berukuran 110 x 38 m. Situs ini pertama kali di teliti pada tahun 1992 oleh Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional ). Sampai tahun 1998 penelitian berhasil menampakan denah bangunan bujur sangkar dengan ukuran 25 x 25 m dan terdapat empat tangga naik di setiap sisi. Di setiap tangga naik, terdapat 9 trap anak tangga. Dengan ukuran tinggi trap tangga 21cm, panjang 37 cm. Trap tangga tersebut terbuat dari Batu Andesit dengan ukuran tebal 8 cm, lebar 20 cm dan panjang 45 cm. 4 buah tangga tersebut,sekarang sudah selesai di pugar oleh Balai pelestarian peninggalan purbakala (Bp3 serang).

Tinggi situs candi Blandongan yang masih tersisa pada saat ini adalah sekitar 3,5 m. denah bangunan luar berukuran 25 x25 m ini merupakan tembok keliling sebuah bangunan candi yang merupakan satu kesatuan dengan bangunan inti. Dinding keliling bangunan candi ini terbuat dari Batu bata yang di susun rapih dengan menggunakan pola Copstrek ( panjang pendek ) di bagian luarnya. ketebalan tembok dinding candi ini adalah 1.75 cm. Bagian keliling dinding luar terdapat hiasan-hiasan seperti pelipit datar, pelipit kumuda (haplon), pelipit sisi genta dan pelipit kerucut terpotong (gerigi) empat sisi dinding keliling bangunan ini sudah selesai di pugar.

Di dinding luar di temukan sisa-sisa lepa yang berwarna putih, kemungkinan besar candi ini dulunya berwarna putih dengan ketebalan lepa 0.5 cm. Sisa-sisa lepa itu masih terlihat jelas di dinding-dinding candi Blandongan. Pada bagian dinding dalam terdapat halaman bata yang di lapisi oleh stuco. Stuco adalah sejenis beton dengan bahan kerikil di campur kapur dan tumbukan kulit kerang. Karena sudah termakan oleh usia lapisaan ini sudah terkikis dan lapisan batanya sudah banyak mulai terliat. Di halaman atas candi ini juga ditemukan semacam bekas Umpak tiang bangunan yang berjulah 16 buah batu umpak.di setiap sisi terdapat empat buah batu umpak tiang sebuah bangunan ( hasil temuan Bp3 serang ).

 Tepat di tengah halaman, terdapat bangunan inti yang menyisakan bagian kaki yang denahnya bujur sangkar dengan ukuran 9.2 mx 9.2 m sudutnya menonjol, seperti Baspion pada sebuah benteng. bagian atasnya sudah rusak dan di bagian atas juga terdapat semacam saluran air, ini juga masih belum jelas pungsi dan kegunaannya (masih dalam penelitian) Candi Blandongan mulai di pugar pada tahun 1999 oleh Bp3 serang. Dan pada tahun 2000 tidak ada kegiatan pemugaran di situs candi Blandongan, baru pada tahun 2001 sampai saat ini kegiatan pemugaran masih berjalan dan sudah mendekati tahap akhir. Berdasarkan pengamatan pada fisik bangunan candi Blandongan sudah mengalami penambahan bangunan (rehab) pada masa itu, ini dapat di lihat pada sisi barat daya dan barat laut satu pilar yang sengaja di buka untuk memperlihatkan bentuk pilar sebelumnya. Sejak pertama kali penelitian tahun 1992 hingga sekarang saat pemugaran berhasil menemukan benda–benda suci yang biasa di gunakan pada saat upacara keagamaan, salah satunya Amulet/terakota dari bahan tanah liat yang di bakar. Amulet itu bergambarkan tokoh–tokoh dalam agama Budha dan di bawahnya terdapat tulisan yang berisi mantra-mantra. Dari temuan stupika tablet (Amulet) Candi Blandongan dapat di perkirakan pada abad ke IV–VII M, bahkan berdasarkan hasil penanggalan dengan menggunakan Carbon Dathing pada tahun 2001 memberikan hasil penanggalan yang lebih tua lagi yakni antara 150 – 400 M.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batujaya adalah

Museum Batujaya (Museum Situs Cagar Budaya Batujaya)